alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Jumlah Petugas Rukti Jenazah Covid-19 di Gunungkidul Masih Minim, Antrean Sering Menumpuk

Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana Senin, 12 Juli 2021 | 14:43 WIB

Jumlah Petugas Rukti Jenazah Covid-19 di Gunungkidul Masih Minim, Antrean Sering Menumpuk
[ilustrasi] Video saat petugas BPBD Jogja mengantarkan jenazah Covid-19 menuju krematorium dari RS Siloam Jogja. [Yusak Sunaryo / Facebook]

Padahal sampai saat ini angka kematian akibat Covid-19 di Gunungkidul cukup tinggi.

SuaraJogja.id - Jumlah petugas rukti jenazah Covid-19 di wilayah Gunungkidul masih sangat minim. Akibatnya, banyak jenazah pasien Covid-19 di Gunungkidul yang terpaksa antre untuk segera diurus. Padahal sampai saat ini angka kematian akibat Covid-19 di Gunungkidul cukup tinggi.

Bahkan, Minggu (11/7/2021) kemarin Gunungkidul kembali mencatatkan rekor angka kematian karena Covid-19 tertinggi selama pandemi Covid-19. Dinas Kesehatan menyebut dalam sehari, angka kematian karena Covid-19 di Kabupaten Gunungkidul mencapai 23 kasus, di mana 5 di antaranya pasien isolasi mandiri.

Staf Administrasi Logistik dan Pendampingan SDM PMI Gunungkidul Saiful Asrofi mengakui, PMI Gunungkidul hanya memiliki 2 tim rukti jenazah, sedangkan ada beberapa kasus kematian isoman bersamaan waktunya. Meski sebenarnya di sekitar pasien isoman, ada yang mendukung dengan peralatan namun ada yang tidak berani untuk melakukannya.

"Jadi akhirnya tidak ditangani sama sekali. Itu pernah terjadi, tapi jadi evaluasi dari pemerintah setempat. Kami juga terbatas APD, sedangkan penanganan kasus meningkat," paparnya.

Baca Juga: Viral Keluarga Jenazah COVID-19 Ngaku "Dipalak" di TPU Cikadut, Polisi: Bukan Pungli

Pihaknya memang sudah memperkirakan adanya lonjakan kasus isoman yang meninggal dunia, namun di satu sisi APDnya tidak sesuai. Meski sebenarnya ada beberapa kalurahan yang sudah mereka dampingi, tetapi ada yang benar-benar baru menangani kasus kematian Covid-19 sehingga mereka jadi kebingungan.

Hal itu memicu miskomunikasi terlebih kasusnya sendiri sangat menyebar. Sehingga selain melakukan rukti di lapangan pihaknya juga mengarahkan agar rukti bisa dilakukan di rumah sakit. Seperti di RSUD atau RS swasta sehingga jika ada yang meninggal di rumah, nanti pihaknga akan menjemput jenazahnya lalu dirukti di RS.

"Jika kegiatan kami begitu padat. Maka kami jemput jenazahnya terus dirukti di rumah sakit," ujarnya.

Terpisah, Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wonosari, dr Heru Sulistyoningsih mengakui petugas rukti jenazah Covid-19 di RSUD Wonosari memang sangat terbatas. Padahal mereka sering mendapat kiriman jenazah dari pasien Covid-19 yang melakukan isolasi mandiri.

Heru mengungkapkan di tim inti, RSUD Wonosari hanya memiliki 2 orang laki-laki untuk mengurusi jenazah laki-laki sehingga wajar jika terkadang jenazah harus antre. Selama ini mereka terus dibantu dari petugas customer service (CS) 2 perempuan kalau ada jenazah yang perempuan.

Baca Juga: Top 5 SuaraJogja: Donasi Pasien RS Sardjito, Penjual Hewan Kurban Tak Berani Stok Banyak

"Karena petugas kami minim maka sering terjadi antrean," ungkapnya.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait