Riwayat Sate Klatak Pak Pong, Belajar dari Kakek Sejak Usia 10 Tahun

Pak Pong membuka warung sate klatak pertama di Jalan Imogiri Timur

Galih Priatmojo | Rahmat jiwandono
Selasa, 07 September 2021 | 13:52 WIB
Riwayat Sate Klatak Pak Pong, Belajar dari Kakek Sejak Usia 10 Tahun
Proses memasak sate klatak di warung Sate Klatak Pak Pong. (Rahmat Jiwandono / SuaraJogja.id)

SuaraJogja.id - Buat kamu penggemar sate kambing barangkali sudah tak asing dengan sate klatak. Kuliner khas Bantul ini memang tersohor, bahkan sate yang khas ditusuk menggunakan jari-jari sepeda ini pernah mejeng di film Ada Apa Dengan Cinta jilid 2.

Dari sekian kedai sate klatak yang berderet di Padukuhan Jejeran, salah satu yang punya nama besar yakni sate Klatak Pak Pong. Warung Sate Klatak Pak Pong terletak di Jalan Sultan Agung No.18, Jejeran II, Wonokromo, Pleret, Bantul.

Pendiri Sate Klatak Pak Pong, Dzakiron menceritakan, usahanya tersebut merupakan warisan dari sang kakek. Kakeknya sudah mulai berjualan sekitar tahun 1960-an.

"Saat itu jualannya keliling di setiap acara seperti pasar malam atau layar tancap. Lalu kalau enggak habis dijual keliling kampung di sekitar sini saja karena jualannya hanya jalan kaki, belum pakai gerobak," ujar Dzakiron saat ditemui SuaraJogja.id, Selasa (31/8/2021).  

Baca Juga:Belum Laksanakan PTM, Bantul Tunggu Capaian Vaksinasi Sampai 70 Persen

Karyawan Sate Klatak Pak Pong 1 sedang memotong daging kambing dan ditusuk menggunakan jeruji sepeda. [Rahmat Jiwandono / SuaraJogja.id]
Karyawan Sate Klatak Pak Pong 1 sedang memotong daging kambing dan ditusuk menggunakan jeruji sepeda. [Rahmat Jiwandono / SuaraJogja.id]

Dia mengungkapkan bahwa kedua orang tuanya justru tidak berjualan sate klatak. Ayahnya punya bengkel sepeda motor saat itu.

Perkenalannya dengan sate klatak saat dia berusia 10 tahun. Pada saat itu, ayahnya meninggal dunia, sehingga keadaan membuatnya belajar meracik sate klatak.

"Dari situ saya ikut kakek karena orang tua saya enggak bisa mencukupi kebutuhan hidup untuk empat orang anaknya. Jadi saya mulai belajar menguliti daging kambing, meracik bumbu, memanggang sate, hingga siap disajikan belajar dari kakek saya," ucap pria tamatan SD itu.

Usaha keluarga itu rupanya turun temurun sampai ke saudara-saudaranya. Mereka juga membuka usaha sate klatak di sekitar Jejeran.

"Saudara-saudara kakek saya juga banyak yang jualan sate, lalu turun ke anak sampai cucunya. Saya generasi kedua, semuanya jualan sate klatak di seputaran sini," ujarnya.

Baca Juga:PPKM di DIY Turun ke Level 3, Bupati Bantul: Tempat Wisata Segera Dibuka

Dijelaskan dia, kesuksesan yang ia peroleh sekarang tidak diraih secara instan, melainkan melalui sebuah proses yang panjang.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak