- Enam mahasiswa UGM dan UNY terluka akibat tindakan kekerasan di simpang empat Gramedia, Yogyakarta, pada Selasa malam.
- Para korban sempat menjalani perawatan medis di rumah sakit sebelum diperbolehkan pulang sekitar pukul 00.30 WIB.
- Kekerasan terjadi setelah kelompok masyarakat memukul mundur mahasiswa yang menyampaikan kritik ekonomi dan politik secara damai.
SuaraJogja.id - Sebanyak enam mahasiswa terluka saat mengikuti aksi penyampaian kritik terhadap kondisi ekonomi politik di simpang empat Gramedia, Yogyakarta, Selasa (1/9/2026) malam. Mereka sempat mendapat perawatan di rumah sakit setelah mengalami sejumlah luka akibat tindakan kekerasan.
Direktur Kemahasiswaan UGM Hempri Suyatna mengatakan enam mahasiswa yang terluka terdiri dari lima mahasiswa UGM dan satu mahasiswa UNY.
"Ada 6 mahasiswa kita, 6 mahasiswa ya, 5 mahasiswa dari UGM dan 1 mahasiswa dari UNY yang kemarin akhirnya harus, sempat dirawat di rumah sakit," kata Hempri kepada awak media di UGM, Rabu (2/9/2026).
Ia bilang para mahasiswa sempat menjalani perawatan sebelum akhirnya diperbolehkan pulang sekitar pukul 00.30 WIB dini hari nanti.
Baca Juga:Konservasi Indonesia Dinilai Masih Negara-Sentris, PCS 2026 Dorong Perubahan Paradigma
Disampaikan Hempri, beberapa korban mengalami luka di bagian wajah akibat benturan keras secara langsung.
"Jadi kalau saya lihat memang ada beberapa yang luka karena ada pukulan ya. Kemarin di pelipis itu ada ada yang kena pukulan, kemudian juga ada yang mungkin juga ya tertendang juga ya, kena tangan dan kaki," ujarnya.
Hempri menjelaskan, kondisi mahasiswa pada awal aksi relatif kondusif. Mahasiswa datang sekitar pukul 16.30 WIB untuk menyampaikan kritik terhadap situasi ekonomi dan politik yang terjadi.
Direktorat Kemahasiswaan bersama Kantor Keamanan Keselamatan Kerja Kedaruratan, dan Lingkungan (K5L) UGM turut memantau keberadaan mahasiswa sejak sekitar pukul 16.00 WIB hingga dini hari. Ia menyebut mahasiswa pada awalnya tidak menunjukkan tindakan provokatif maupun anarkis.
Situasi kemudian berubah sekitar pukul 19.00 WIB ketika muncul bentuk-bentuk provokasi yang, menurut Hempri dilakukan oleh kelompok masyarakat tertentu. Kondisi tersebut sempat memicu konflik, meski situasi kembali normal sekitar pukul 19.20WIB.
Baca Juga:PTN Borong Kuota Maba, Kampus Swasta Pilih Tampung Anak Korban Bencana Lewat Sego Berkat
Hempri mengatakan situasi kembali memanas sekitar pukul 22.00 WIB. Pada saat itu, mahasiswa disebut dipukul mundur oleh kelompok masyarakat dan terjadi tindakan kekerasan yang menyebabkan sejumlah mahasiswa mengalami luka.
"Sekitar jam 22.00 saya kira teman-teman mahasiswa dipukul mundur oleh kelompok-kelompok masyarakat dan ironisnya dengan berbagai bentuk aksi kekerasan yang tidak sepantasnya terjadi," ujarnya.
Ia menegaskan, mahasiswa disebut tidak melakukan tindakan anarkis ketika kekerasan tersebut terjadi.
"Adik-adik (mahasiswa) tidak anarkis, tidak ribut dan sebagainya tapi kemudian dipukul mundur dengan tindakan-tindakan yang kemudian ya anarkis," ujarnya.