Klitih Mulai Sasar Driver Ojol, KADO Minta Polisi Bertindak Tegas

Galih Priatmojo | Muhammad Ilham Baktora
Klitih Mulai Sasar Driver Ojol, KADO Minta Polisi Bertindak Tegas
Driver ojol bernama Enrico jadi korban kebrutalan klitih yang terjadi Sabtu (31/1/2020) kemarin di Jalan Kabupaten. [Muhammad Ilham Baktora / SuaraJogja]

Enrico mendapat luka serius di wajah setelah menjadi korban klitih di Jalan Kabupaten, Sleman Sabtu kemarin.

SuaraJogja.id - Seorang driver ojek online, Enrico Kristanto harus dilarikan ke Rumah Sakit Akademik (RSA) Universitas Gadjah Mada (UGM), Sabtu (1/2/2020) pukul 03.20 WIB usai mengalami luka cukup serius di bagian wajah karena terkena bacokan.

Pria yang tinggal di Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul tersebut merupakan satu dari sekian korban penganiayaan tanpa motif atau lebih dikenal oleh masyarakat Yogyakarta dengan sebutan klitih. Akibat bacokan di bagian wajahnya, ia harus menjalani operasi.

Awalnya pria 40 tahun ini hanya menjalani tugas seperti hari-hari sebelumnya. Menerima orderan penumpang dan mengantarkan mereka ke tempat yang dituju sesuai aplikasi di dalam gawainya. 

Pukul 03.00 wib, Enrico masih bekerja di tengah pagi buta, mengantarkan seorang penumpang. Tepat di Jalan Kabupaten, Trihanggo, Gamping, Kabupaten Sleman, dari arah utara Jalan Kabupaten, melaju seorang pengendara motor. Tak jelas apakah satu ada dua orang, namun orang tak dikenal tersebut mengayunkan sebuah senjata tajam hingga mengenai wajah Enrico.

"Serasa muka saya dihantam sebuah benda keras. Seketika saya oleng dan menepi. Untung penumpang saya langsung memegangi badan saya. Posisi sudah miring dan hampir jatuh, setelah saya sadar, bibir kanan saya hingga leher sebelah kanan mengeluarkan banyak darah. Rasanya perih sekali," ungkap Enrico ditemui SuaraJogja.id di RSA UGM, Minggu (2/2/2020).

Pihaknya melanjutkan, keadaan yang sepi membuat penumpang bergegas mencari bantuan. Warga yang masih berada di sekitar TKP, mendekati Enrico dan membawa pria asal Depok, Jawa Barat ini ke RS terdekar.

"Mata saya sudah berkunang-kunang, rasanya setengah sadar. Saya merasa berada di atas motor diapit oleh dua orang warga. Setelah itu saya sudah tak ingat apa-apa lagi," jelas Enrico yang sulit berbicara jelas.

Meski demikian pihaknya mencoba membeberkan kronologi kejadian yang dia alami pada Sabtu pagi buta tersebut.

Pria yang dirawat di ruang Bima 4 RSA UGM itu mengaku sengaja mencari penumpang di tengah malam karena untuk menambah penghasilan. 

"Saya freelance di Yogyakarta, jadi dari siang sampai subuh itu kerja. Siang sampai sore freelance, lalu malamnya sekitar pukul 21.00, saya narik (bekerja) ojek sampai jam 05.00, hal itu dilakukan semata-mata untuk mencukupi kebutuhan hidup. Saya harus membayar BPJS baik saya dan juga orang tua," ungkapnya.

Ia mengaku saat itu mulai keluar untuk ngojek sekitar pukul 21.00. Ia saat itu mendapat orderan dari Stasiun Tugu.

"Saya mulai narik itu pukul 21.00, nah setiap pukul 00.00 aplikasi di-restart dan poin nanti kembali ke angka semula. Jadi tidak mengejar poin, saya mengejar penumpang. Karena pukul 00.00 sampai 05.00 banyak penumpang terutama dari Stasiun Tugu Yogyakarta. Ya jika badan saya kuat untuk bekerja malam, hari itu saya terima orderan penumpang di sana (Stasiun Tugu)," katanya.

Disinggung mengapa memilih Jalan Kabupaten untuk mengantar penumpang, Enrico mengaku karena memang sejalur dengan lokasi rumah penumpangnya. Namun begitu ia tak berprasangka buruk ketika melintas di jalan tersebut.

"Dasarnya saya memang berani untuk melintasi jalan itu (Kabupaten) karena masih ada penerangan. Biasanya juga lewat daerah itu namun tak pernah mengalami kejadian seperti ini. Malah kemarin Sabtu terkena musibah klitih ini" keluhnya.

Enrico sedikit menyayangkan peristiwa yang dialami. Sebab meski polisi telah sering melakukan patroli, masih saja terjadi kejadian penganiyaan tak bermotif itu.

"Saya beberapa kali beroperasi malam kerap melihat polisi patroli, kadang ada yang melintasi Jalan Kabupaten, ada juga di daerah Kalibawang. Jadi melihat kasus saya di Jalan Kabupaten, saya pikir pelaku ini sudah mengetahui lokasi mana saja yang tak dilalui patroli polisi. Jadi seperti kucing-kucingan. Saya malah sempat berpikir pelaku-pelaku ini seperti terorganisir, karena sudah sering polisi bertindak namun masih muncul lagi pelaku-pelaku itu," prediksi Enrico.

Akibat kejadian klitih tersebut, Enrico kini terpaksa harus terbaring di RSA UGM. Kelopak matanya nampak bengkak, dua helai perban menempel dari pinggir bibir sisi kanan hingga menutup leher sebelah kanan.

"Lukanya panjang dari pinggir bibir sampai leher belakang bagian kanan. Dokter memberitahu ada banyak jahitan. Pundak saya juga terkena barang yang katanya benda tajam," ucapnya menunjukkan beberapa jahitan di wajah.

Kejadian yang menimpa Enrico itu mengundang prihatin sesama driver ojol. Hal ini seperti yang diungkapkan Yulianto. Keluarga driver ojek daring asal Bligo, Ngluwar, Magelang yang beroperasi di Sleman, DIY bahkan pernah jadi korban klitih.

Anak semata wayangnya, Bagus Rifki saat itu menjadi korban penganiayaan setelah mendapat hantaman batu dari pelaku yang diduga masih duduk di bangku SMA, 5 November tahun lalu.

"Anak saya yang menjadi korban klitih saja, saya sudah pusing sekali. Disamping khawatir dengan masa depan anak, biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan juga banyak. Bahkan jika penganiayaan seperti ini, BPJS tak bisa membantu," keluhnya.

Yuli harus membuat laporan kasus penganiayaan itu untuk meminta bantuan dan dari beberapa lembaga bantuan lain. Ia pun sangat berharap pemerintah daerah dan kepolisian bisa menindak secara serius atas kasus klitih yang meresahkan tersebut.

"Mbok yo pemerintah itu bisa lebih perhatian kepada warga yang terkena penganiyaan ini terutama karena ini kan butuh biaya besar untuk pengobatannya. Karena dari perusahaan kami (Gojek) hanya ada BPJS, tapi BPJS itu tak bisa membantu biaya untuk korban penganiayaan. Seharusnya kejadian seperti ini (klitih) harus diselesaikan secara tuntas. Karena kami yang juga bekerja malam hari juga akan was-was saat akan beroperasi," terang Yuli.

Ketua Komunitas Koordinasi Antar Driver Online (KADO) Yogyakarta, Adi Setyawan mengatakan bahwa Yogyakarta sudah darurat Klitih. Pasalnya tak hanya anak remaja yang menjadi korban. Driver ojolpun juga jadi sasaran.

"Yogyakarta kembali jadi darurat Klitih setelah kasus yang menimpa rekan kami Enrico. Jadi kami tidak tahu apa-apa, sedang dalam tugas untuk menghidupi diri tapi malah kena penganiyaan ini. Jika kecelakaan, memang jelas karena mungkin keteledoran driver. Tapi jika penganiayaan itu, ada unsur kesengajaan untuk melukai orang-orang, tapi kenapa driver ojol yang jadi korban," kata Adi.

Pihaknya membeberkan tahun 2020 ini, pihaknya sudah mendapat tiga laporan dari komunitasnya terkait kasus kejahatan di jalan raya yang korbannya driver ojol. Pertama di Muntilan, Magelang, Jawa Tengah, lalu Jalan Kabupaten, Gamping, Sleman dan terkahir di Nanggulan, Kulonprogo.

"Komunitas kami juga bergerak memperhatikan keselamatan pengemudi. Sudah ada tiga kasus yang kami terima tahun ini. Harusnya ini jadi perhatian bersama terutam pihak kepolisian," kata dia.

Adi yang juga relawan untuk rekan driver online ketika mengalami musibah mengatakan koordinasi dengan pihak aparat pernah mereka lakukan. Namun hingga kini belum sepenuhnya keselamatan driver terjamin.

"Jadi kami hanya bisa berharap kepada polisi. Memang keselamatan menjadi pribadi masing-masing driver, tapi Yogyakarta yang kami nilai darurat Klitih, harusnya polisi lebih giat lagi untuk melakukan tindakan," tambahnya.

Terkait kasus yang menimpa Enrico para driver ojol yang tergabung dalam komunitas KADO sedang berupaya untuk menggalang dana.

"BPJS memang tak bisa mengcover biaya pengobatan. Namun kami sedang berusaha untuk mengurus biaya lewat Jamkesos dan pihak lainnya. Namun yang terpenting adalah keselamatan kami (driver ojol) ke depan ketika beroperasi malam. Karena tak dipungkiri, banyak penumpang dan orderan terutama orang-orang yang ada di stasiun, terminal dan tempat pemberhentian bus di pinggir jalan," tambah Adi.

Sementara Kasat Reskrim Polres Sleman, AKP Rudy Prabowo mengatakan penganiayaan tanpa motif itu memang didominasi anak pelajar. Beberapa diantaranya memang ada yang ingin menunjukkan jati diri, hingga mencari perhatian ke publik.

"Artinya ada niatan untuk menunjukkan siapa dirinya. Nah hal ini juga harus menjadi perhatian banyak pihak, selain polisi terus menggelar KRYD, peran orang tua kepad anak juga penting. Kasus ini tetap menjadi perhatian kami dan berusaha menangkap pelaku-pelakunya," kata dia.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS