facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Cerita Petugas Sampah di Transfer Depo Lempongsari: Kerap Kena Beling, Paku hingga Mata Pancing

Galih Priatmojo Sabtu, 14 Mei 2022 | 15:05 WIB

Cerita Petugas Sampah di Transfer Depo Lempongsari: Kerap Kena Beling, Paku hingga Mata Pancing
Iskandar kala memilah sampah di Transfer Depo Sampah Lempongsari, Sariharjo, Ngaglik, Kabupaten Sleman. (kontributor/uli febriarni)

Iskandar selain sebagai driver juga kerap ikut memilah sampah yang ada di transfer depo Lempongsari

SuaraJogja.id - Sampah dari rumah tangga di Kabupaten Sleman akan dikelola sebelum dibuang ke TPST Piyungan, Kabupaten Bantul. Hal itu dilakukan, karena sementara ini Kabupaten Sleman belum memiliki TPST sendiri.

Namun demikian, sebelum diangkut ke TPA, sampah-sampah dikelola dulu di transfer-transfer depo atau di TPS 3R yang ada di sejumlah titik wilayah.

Salah satu transfer depo sampah yang dikelola oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman, berada di Padukuhan Lempongsari, Kalurahan Sariharjo, Kapanewon Ngaglik. Sedikitnya ada lima orang petugas bekerja di sana.

Seorang pengelola sampah di transfer depo sampah Lempongsari, Sariharjo, Ngaglik, Kabupaten Sleman sedang memilah sampah. (kontributor/uli febriarni)
Seorang pengelola sampah di transfer depo sampah Lempongsari, Sariharjo, Ngaglik, Kabupaten Sleman sedang memilah sampah. (kontributor/uli febriarni)

Salah satu dari mereka adalah Iskandar. Lelaki yang berstatus pegawai ASN DLH Sleman ini mengaku sudah bertugas di transfer depo selama 24 tahun lamanya.

Baca Juga: Sleman City Hall Pererat Silaturahmi dengan Media, Halal Bi Halal hingga Jelajah Rumah Hantu

"Saya driver (supir), yang membawa truk pengangkut sampah menuju Piyungan," kata dia, Sabtu (14/5/2022), di sela-sela melanjutkan aktivitas rutinnya di transfer depo.

Mengenakan kaus dan topi hitam, Iskandar bersama rekannya memilah sampah yang masuk ke transfer depo. Mulai dari plastik, botol, hingga sampah sisa dapur.

"Ngapunten (maaf), saya kurang bisa kalau hanya menyupir saja. Saya sukanya sambil pilah-pilah dan bantu yang saya bisa. Kalau hanya menyupir badan tidak enak," terangnya.

"Ikut memilah sampah lumayan membuat tubuh berkeringat," tutur Iskandar.

Sampah yang masuk ke transfer depo memang harus dipilah terlebih dahulu, sebelum diangkut ke TPA Piyungan. Sampah daun dan sisa dapur yang sudah tidak bisa diolah lagi yang akan masuk ke TPA. Sedangkan botol plastik dan jenis sampah lain yang bisa diolah kembali untuk didaur ulang, dipisah untuk dijual kiloan.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Jogja Hari Ini, Sabtu 14 Mei 2022: Malam Sleman dan Yogyakarta Hujan Lebat

Mengutak-atik sampah sejak masih bujang hingga sekarang, ia sudah khatam dengan lingkungan tempatnya bekerja.

Selain berkaus dan bertopi, kakinya ia bungkus dengan sepatu boot berbahan plastil tebal. Terlebih dahulu dilapisi kaus kaki tinggi, agar tepian sepatu boot yang tajam tak melukai kulit di area betis atau tulang keringnya.

Tangannya? Telanjang, kosong tanpa dibalut atau dibungkus apapun.

"Kalau dibungkus malah pengap dan berkeringat, nanti gatal-gatal," ucapnya sambil menunjukkan punggung tangan.

Walau begitu, Iskandar sudah hafal pula. Bahwa membuka sampah dari bungkusnya tak bisa sembarangan. Bisa-bisa tangan atau kaki bisa terluka.

"Sering, tangan saya kena beling, paku, mata pancing yang ada senarnya juga pernah," tuturnya.

Kalau sudah begitu, buru-buru ia membersihkan luka dan mengobatinya dengan perlengkapan P3K yang ada di ruang kerja transfer depo.

Iskandar kala memilah sampah di Transfer Depo Sampah Lempongsari, Sariharjo, Ngaglik, Kabupaten Sleman. (kontributor/uli febriarni)
Iskandar kala memilah sampah di Transfer Depo Sampah Lempongsari, Sariharjo, Ngaglik, Kabupaten Sleman. (kontributor/uli febriarni)

"Sebetulnya kalau lapor kantor ya diobati di kantor, tapi terlalu lama kan. Membutuhkan waktu. Jadi segera saja diobati di sini, pakai biaya sendiri," terangnya.

Bolak-balik terluka akibat potongan kaca, paku dan benda tajam lainnya tak lantas membuat ia kapok bekerja mengelola sampah. Ia hanya berpesan dan meminta tolong kepada masyarakat, khususnya di Kabupaten Sleman, agar membantu mengurangi risiko petugas pemilah sampah mengalami luka saat bekerja.

"Bagusnya masyarakat memilah sampah. Orang itu ora reti rekasane wong nata sampah (orang itu tidak tahu susahnya menata sampah)," ungkapnya.

"Biasanya membuang paku, sampah rumah, plastik, dicampur. Yang membongkar sampah, tahunya sudah digeret alat. Tidak tahu ada beling menyenggol kaki, bisa luka," lanjutnya.

Menurut dia, cara membuang sampah yang dapat mengurangi risiko buruk adalah dengan memilahnya. Menyendirikan jenis sampah beling, paku, kaca agar tidak dibawa ke transfer depo.

"Atau bisa juga ditaruh di tumpukan sampah paling atas, dibungkus dan disendirikan. Sewaktu dikumpulkan, sampaikan kepada petugas pengangkut bahwa ada beling atau benda berbahaya tajam lainnya, supaya tidak mengenai yang bongkar," harapnya.

Sementara itu Anjar mengatakan, saking seringnya bergumul dengan sampah, lalat seakan sudah menjadi teman.

Transfer depo di tempatnya bekerja, melayani kelola sampah milik warga Kalurahan Sariharjo.

Ia tak memungkiri penutupan TPST Piyungan bukan kali pertama berdampak ke transfer depo. Namun, penutupan beberapa waktu lalu adalah yang terlama dan terparah.

"Biasanya hanya dua hari, kemarin sampai empat harian. Aktivitas angkut sampah dihentikan, kami hanya memilah-milah sampah," tuturnya.

Bupati Sleman Keluarkan SE Mengurangi dan Memilah Sampah

Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo mengaku sudah membuat edaran. Menurut Pemkab, langkah pertama yang dilakukan Pemkab Sleman untuk menyelesaikan persoalan menumpuknya sampah adalah edukasi di masyarakat, agar mulai mengurangi dan memilah sampah. Organik dan anorganik

"Termasuk hotel dan restoran untuk memilah sampah," ucapnya.

Lewat langkah itu, diharapkan sampah bisa diselesaikan dengan keterlibatan semua elemen masyarakat.

Ke depan, di depan rumah warga akan ada tempat pemilahan sampah. Misalnya organik dengan warna hijau, anorganik warna merah. Kemudian, setiap hari secara berkala sampah akan diambil.

"Sehingga apabila ada masyarakat yang membuang sampah sembarang akan ada sanksi. Saya langsung akan turun," terangnya.

Selain rencana pembangunan TPST, Pemkab Sleman menilai sosialisasi dan proses membangun kesadaran masyarakat, atas penerapan pemilahan serta pengurangan sampah adalah tahap yang tidak kalah penting.

Kontributor : Uli Febriarni

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait