- Uji coba penutupan jalan sirip Malioboro pada Agustus dan September 2026 berdampak buruk pada pedagang kecil, kusir andong, serta tukang becak.
- Kebijakan tersebut menyebabkan penurunan pendapatan pedagang hingga tujuh puluh persen serta memaksa pengemudi transportasi tradisional memutar rute lebih jauh.
- Pemerintah Daerah DIY menyatakan akan mengevaluasi dan merancang ulang kebijakan penataan kawasan guna mengakomodasi seluruh kepentingan warga dan budaya setempat.
"Tarif andong itu tergantung rute, kalau jarak dekat Rp 100.000, sedang Rp 150.000, dan jauh bisa sampai Rp 200.000. Memutar sejauh itu pasti memengaruhi harga," katanya.
Beban fisik bahkan lebih terasa bagi Sukamto, pengemudi becak kayuh. Penutupan jalan sirip membuatnya harus mengambil rute memutar ke arah utara melalui kawasan Polresta Yogyakarta atau Jalan Reksobayan untuk menuju Stasiun Tugu.
Bagi becak kayuh, tambahan jarak berarti tambahan tenaga. Tetapi tambahan tenaga itu tidak otomatis berarti tambahan penghasilan. Padahal dalam ujicoba tersebut, kendaraan konvensional seperti becak kayuh maupun andong diperbolehkan melintas.
"Kalau becak harus memutar-mutar itu jelas rugi. Biasanya untuk masuk ke toko-toko di sirip jalan bisa lebih cepat, sekarang tidak bisa lewat dan harus memutar ke utara lewat Polresta untuk ke stasiun Tugu," paparnya.
Baca Juga:Penataan Sumbu Filosofi Yogyakarta Meluas, Panggung Krapyak hingga Eks ABA Direvitalisasi
Tarif yang diterimanya pun tetap sekitar Rp30 ribu. Kekhawatiran Sukamto semakin besar jika nantinya penutupan diperluas seiring rencana full pedestrian di kawasan Malioboro.
"Walaupun memutar jauh, tidak ada kenaikan tarif, biasanya Rp 30.000 untuk satu becak ini. Kalau [jalan sirip] ditutup semua kami repot," akunya.
Pemda DIY sendiri menyadari penataan kawasan tersebut tidak bisa hanya dilihat dari sisi fisik jalan. Sekda DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti mengatakan evaluasi perlu dilakukan untuk menemukan desain yang dapat mengakomodasi berbagai kepentingan, termasuk memastikan pedestrian tetap ramah bagi penyandang disabilitas dan lansia.
"Ya, redesign Regol Ayom. Ya kan kita harus mengakomodir semua, karena kemarin kan mungkin tidak ramah terhadap mungkin difabel atau lansia atau apa. Gitu aja, redesign," ungkapnya.
Menurutnya, yang menjadi perhatian bukan sekadar membongkar atau mengganti konstruksi, melainkan bagaimana pejalan kaki, terutama pengguna alat bantu, dapat melintas dengan nyaman.
Baca Juga:Duh! Septic Tank di Teras Malioboro 1 Meledak, Tiga Wisatawan Terluka
"Cuman, bagaimana memudahkan pejalan kaki khususnya pakai alat bantu untuk melintas, itu aja," ujarnya.
Namun dibalik itu, pemda juga harus berhadapan dengan persoalan kendaraan bermotor, aktivitas ekonomi, transportasi tradisional, dan karakter kawasan budaya. Karenanya konsep full pedestrian di Jogja tidak bisa begitu saja disamakan dengan kawasan pedestrian di tempat lain.
Sebab Malioboro bukan hanya soal trotoar, jalan dan kendaraan. Kawasan ini berada dalam Sumbu Filosofis yang memiliki nilai budaya dan telah mendapat predikat warisan budaya dunia.
"Jadi gini, ketika bilang itu, kita juga harus menyesuaikan secara implementasinya itu lingkungan kita seperti apa, kawasan budaya kita seperti apa. Ada management plan yang kemudian kita harus sesuaikan di situ," ungkapnya.
Karena itu keputusan mengenai full pedestrian sebenarnya sudah ada. Yang masih harus dirumuskan adalah kompleksitas penerapannya di lapangan.
"Bukan belum diputuskan. Sudah diputuskan tetapi secara kompleksitasnya yang belum," tandasnya.