"Jadi kita perlu meng-keep terlebih dahulu posisi kita. Maka dari itu, kita benar-benar berusaha untuk memenuhinya (UKT). Dan mungkin dengan berat hati, dana kebutuhan keluarga yang mungkin lebih penting terpaksa kita gunakan untuk keperluan pendidikan terlebih dahulu," tambahnya.
Walaupun memang dari sisi nominal awal cicilan tersebut tetap tidak sesuai kemampuan. Namun hal itu harus dilakukan untuk tetap membuka peluang berkuliah di kampusnya.
"Meski nilainya tidak memenuhi nominal awal bahkan mungkin nominal cicilannya, tetapi kita memaksakan demi mendapatkan posisi di kampus tersebut," ucapnya.
Posisinya yang sebagai pendatang dari luar Jogja pun makin membuat kondisinya tidak ideal. Maba asal Ciamis, Jawa Barat itu pun bahkan sudah mulai berencana untuk mengambil kerja sampingan setibanya di Jogja nanti.
Baca Juga:Ratusan Mahasiswa UGM Terancam Tak Lanjutkan Kuliah Akibat UKT, Kampus Genjot Cari Beasiswa
"Tentu (berpikir kerja sampingan), rencananya saya akan mengambil kerja sampingan, entah itu secara langsung maupun freelance," imbuhnya.
Selain pula berencana untuk mengikuti program beasiswa, ia pun masih menunggu keputusan pengumuman untuk penerimaan beasiswa KIPK.
Kedatangannya ke Jogja sendiri direncanakan baru dilakukan pada sekitar awal Juli nanti. Dengan biaya kehidupan mulai dari kos serta kebutuhan lain sehari-hari, dia merasa UKT yang ditetapkan tadi memberatkan.
"Kalau diperkirakan, pasti sangat tidak cukup, apalagi kebutuhan penunjang studi sangat banyak dan nominalnya lumayan juga, belum lagi biaya tak terduga lainnya yang mungkin lumayan besar juga," tandasnya.
Dengan kata lain memang biaya kuliah yang diterimanya masih tinggi dan tidak sesuai kondisi keluarga. Bertahan dengan banting tulang untuk mencukupi kebutuhan hidup selama berkuliah di Jogja menjadi upaya utama yang akan dilakukan.
Baca Juga:UGM Bakal Tinjau Ulang Kerjasama Jasa Pinjol untuk Bayar UKT Mahasiswa
Syarat Ajukan Banding UKT Berbelit